Selasa, 15 Oktober 2013

CATATAN TIGA TAHUN PERNIKAHAN


Desember nanti, usia pernikahan kami menginjak tiga tahun. Baru tiga tahun tepatnya. Kalau dibandingkan dengan perjalanan hidup manusia, tiga tahun itu masih sangat muda, bahkan masih balita. Orang bilang, masih seumur jagung dan bau kencur. Entah mengapa pepatah menggunakan kata jagung dan kencur untuk melambangkan usia muda, mengapa tidak kacang ijo atau jahe gitu? Aku sendiri tidak tau alasannya, dan bagiku itu tidak menjadi soal.

Tapi, yang muda bukan berarti tidak punya cerita, kan? Yang muda juga punya kisah untuk dibagi. Meski kalah pengalaman dengan yang sudah tua-tua, tapi tak ada salahnya lho untuk menyimak. 

Kami menikah dengan penuh cinta, bahagia, dan tentunya restu penuh keempat orang tua dan keluarga besar. Bagaimana tidak? Aku dan mas itu masih punya hubungan mindoan. Ibu dan ibu mertua masih sepupu. Kedua mbah putri kami kakak-beradik. Jatuhnya, kami bertemu pada satu buyut. 

Awal-awal penikahan adalah masa-masa pengenalan terdalam kepribadian kami. Pengenalan ini seperti penyesuaian status yang berubah. Kalau dulu hubungan kami kerabat dengan statusku di keluarga lebih tua dari si mas (mbah putriku kakak dari mbah putri si mas), kini kami sudah menjadi suami istri. Kalau dulu aku dipanggil “mbak” sekarang aku yang memanggilnya “mas”. Dulu aku benar-benar memposisikan diriku sebagai “mbak” sepupu yang baik untuknya dan dia memposisikan diri sebagai adik yang manja, kini sebaliknya. Untungnya saja, umur mas memang lebih tua sedikit dariku jadi penyesuaian ini tida terlalu sulit. Dulu abah juga sering berpesan untuk tidak ngelunjak pada suami karena status kekeluargaanku yang lebih tua, sebaliknya, abah juga berpesan pada mas untuk tidak ngalah padaku yang kata abah keras kepala. 

Meski kami saling mengenal sejak kecil, tetap saja aku menemui banyak hal baru dalam kehidupan baru kami, termasuk sifat-sifat mas yang belum aku ketahui. Ternyata, kami memiliki beberapa perbedaan sifat, bahkan perbedaan itu berupa pertentangan seperti pertentangan kutub utara dan kutub selatan. Mas mempunyai sifat yang sangat keras bila mempunyai keinginan dan tidak mudah mengalah. Namun mas juga sering mengalah dan tidak mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat. Sebaliknya, aku seringkali mempermasalahkan hal-hal yang kecil. Mas sangat tidak suka dipaksa. Namun mas juga tidak suka memaksa. Sementara aku seringkali memaksa. Perbedaan sifat kami lainnya adalah mas yang realistis dan aku yang idealis. Mas lebih banyak memendam emosi yang dirasakannya. Sementara aku lebih senang berterus terang. Tentu saja, perbedaan-perbedaan ini menjadi konflik-konflik kecil di awal-awal kehidupan kami. Namun seiring berjalannya waktu, konflik-konflik akibat perbedaan sifat dan karakter ini lambat laun berkurang. Kami sudah bisa saling memahami masing-masing sifat dan karakter kami masing-masing dan tentu saja pemahaman ini bisa mengantisipasi terjadinya konflik. Dengan sifat mas yang tidak suka dipaksa, aku memilih untuk merayu bila ingin sesuatu. Bila di awal-awal kehidupan kami aku seringkali nyablak kalau sedang emosi, maka sekarang aku lebih memilih bicara pelan-pelan dan memilih situasi yang tepat ketika ada masalah. Aku merasa mas pun melakukan penyesuaian-penyesuaian yang sama. Mas akan berhati-hati dan mendahului meminta maaf bila sadar melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Mas juga akan terlebih dahulu minta aku sabar bila dia belum bisa memberi atau menuruti keinginanku. 

Namun, tetap saja ada pertengkarna-pertengkaran kecil yang tidak bisa dihindari. Ketika itu terjadi, biasanya aku yang mulai untuk mengungkapkan semua persaanku, entah itu akibat kesalahanku atapun kesalahan mas. Setelah itu, mas akan memeluk yang artinya perdamaian, saling bermaafan, tanpa kata-kata, namun kami bisa mencerna maknanya. Keadaan pun kembali seperti semula. 

Tentu saja tiga tahun masih merupakan waktu yang singkat untuk berbagi kenangan. Namun sebisa mungkin tiap waktu berjalan adalah kenangan dan perayaan. Itu yang selalu kukatakan pada mas. Pernah suatu waktu kami mengalami kesulitan keuangan (sampai tidak bisa mudik dan menguras habis seluruh tabungan untuk membayar tagihan), aku katakan padanya, “ingat selalu keadaan ini ya Mas, meski nantinya kita dalam keadaan yang lebih baik dari ini.” Mas hanya tertawa, tiada sedih dan tiada duka. Suatu saat mas pernah ditugaskan sekolah untuk mengikuti pelatihan di luar kota selama dua hari. Mas memilih pulang pergi karena waktu itu si kecil masih berumur satu bulan, jadi mas tidak tega meninggalkan kami berdua. Mas rela menempuh perjalanan dua jam dengan naik motor karena jauhnya jarak. Harapannya tidak banyak waktu itu, nanti toh dapat uang ganti transportasi dan paling tidak dapat bisyaroh. Maklum, waktu itu keadaan keuangan sedang memprihatinkan. Namun setelah pelatihan selesai, pihak sekolah hanya memberikan ongkos transportasi yang jauh dari kata cukup. Kecewa , sudah tentu. Tapi kami memilih untuk merayakan kekecewaan ini. “Mau nggak ngilangin kecewa?” tanyaku. “ Emang mau ngapain?” Tanya mas. “Mbakso yuk. Setelah uang ini habis untuk makan bakso, nanti kita akan lupa dengan uang ini dan kecewanya juga akan hilang.” Kami tertawa dan begitulah, hilang rasa kecewa. 

Begitulah kami melewati hari-hari bersama. Semua kami nikmati dengan rasa syukur dan memaknainya sebagai bagian yang tak bisa diabaikan begitu saja, karena kami percaya tiada takdir yang diciptakan sia-sia. 

Tentang romantisme, suami bukanlah tipe laki-laki romantis yang dating dengan sekuntum mawar merah atau sebait puisi cinta. Untungnya lagi, aku bukan perempuan yang mengidam-idamkan romantisme semacam itu dari pasangan. Jadinya perjalan hidup kami aman-aman saja tanpa masalah. Bagiku sendiri, mas sudah sangat romantis. Romantis itu ketika mas membantuku menjemur cucian. Romantis itu ketika tengah malam mas membangunkan dan mengajakku makan nasi goreng buatannya. Romantis itu ketika mas membuatkan teh manis hangat saat aku sibuk menulis tesis. Romantis itu ketika mas menunggu dan menemani Farras, buah hati kami, bermain dan memberiku waktu untuk tidur dan istirahat. Romantis itu ketika mas rela mengantar-jemput kami, Bandar Lampung-Jakarta ketika aku menyelesaikan kuliahku. Itulah catatan tiga tahun pernikahan kami. 

Bagi kami, cinta tidak selamanya menerima pasangan apa adanya, tetapi saling berusaha memperbaiki diri dan pasangan untuk menjadi pribadi dan keluarga yang terus lebih baik. 

Semoga, Mbak Uniek juga dilanggengkan jodohnya, berkah pernikahannya, dan semakin mawaddah.

Tulisan ini dibuat untuk merayakan Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine