Kamis, 25 April 2013

Menelusuri Jejak Kartini


Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai  salah satu Hari Nasional. Tanggal tersebut dirujuk kepada tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini, seorang pahawan perempuan yang berjuang dengan pena dalam upaya kebangkitan nasional. Sayangnya, kepahlawanan R.A. Kartini sebagai perintis nasionalisme ini kurang dikenal dalam sejarah daripada ketenaran namanya sebagai perintis emansipasi perempuan di Indonesia ini. Padahal kalau kita membaca ketajaman pena-pena R.A. Kartini melalui surat-suratnya, kita akan mendapati semangat nasionalisme yang kuat padanya.


Semangat nasionalisme ini dituangkan dalam setiap ungkapan keprihatinan jiwanya akan nasib bangsa dan rakyat Insulinde (nama populer Indonesia sebelum 1922). Ungkapan keprihatinan tersebut ia tulis dalam surat, kemudian ia kirimkan kepada sahabat-sahabat penanya yang berbangsa Belanda, baik yang berada di Belanda maupun sahabatnya yang kebetulan bertugas di Indonesia.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, R.A. Kartini juga memikirkan jalan keluar yang dibutuhkan bangsa dan rakyatnya dari kesengsaraan. Dalam masa pingitan –adat Jawa yang pada saat itu berlaku untuk gadis-gadis bangsawan, yaitu dengan mengurung para gadis sampai ada laki-laki yang membebaskannya yang kemudian menjadikannya istri- itulah, R.A. Kartini memikirkan dengan tajam akar dari segala permasalahan yang menimpa rakyatnya. Akhirnya iapun pada kesimpulan bahwa untuk memerangi penderitaan, rakyat tidak boleh bodoh, rakyat harus diberi pendidikan.

Dengan bekal kemampuan bahasa Belanda yang baik, gagasan pendidikan rakyat pribumi ia sampaikan pada sahabat-sahabatnya. Di antara mereka adalah istri-istri pejabat pemerintah Belanda. Hubungan baik antar sahabat inilah yang kemudian memudahkan nama R.A. Kartini dikenal di kalangan pejabat pemerintah Belanda. Ia pun membuat nota yang diberi judul “Berilah Pendidikan kepada Bangsa Jawa” dimulai dengan pengakuan bahwa tidaklah mungkin untuk memberikan pendidikan kepada seluruh rakyat secara sekaligus. Yang mungkin adalah memberikan pendidikan kepada golongan atas dulu, yang kelak akan menebarkan manfaatnya kepada rakyat. Sebab ketika itu, rakyat Jawa sangat menjunjung tinggi kaum bangsawannya, dan apa yang dikatakan oleh kaum bangsawan sangat mudah di turut oleh kalangan rakyat.

R.A. Kartini kemudian memandang begitu besarnya peran perempuan dalam pemecahan masalah ini. Bagi R.A. Kartini perempuan sebagai ibu adalah pendidik utama bagi generasi selanjutnya. Di pangkuan ibu, sang anak mulai merasakan, berfikir, dan bicara. Pendidikan masa kecil itu mempunyai pengaruh yang besar untuk pebentukan kepribadian sang anak di masa selanjutnya. Tetapi bagaimana ibu-ibu ini bisa mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa Indonesia tidak mungkin bisa maju, kalau kaum perempuan tidak diikut-sertakan dan tidak diberi tugas dalam usaha pembudayaan bangsa.

Di sini kita bisa lihat bagaimana R.A. Kartini merumuskan kedudukan dan peran penting perempuan dalam kehidupan. Perempuan akan menjadi penentu nasib suatu bangsa di masa mendatang. Di tangannya tergenggam nasib suatu bangsa. Ketika perempuan memainkan perannya dengan baik, maka bisa dipastikan bangsa akan menjadi bangsa yang luhur. Dan perempuan akan mampu menjalankan peran utama tersebut bila ia terdidik. Itulah inti nota yang dituliskan oleh R.A. Kartini untuk bangsanya.

Reduksi Jejak Kartini

Nampaknya, gagasan R.A. Kartini tentang pendidikan perempuan ini tidak popular di Indonesia. Ketika nama R.A. Kartini disebut, maka yang muncul hanyalah perjuangnnya melawan adat feodal dan budaya patriarki yang ia hadapi saat itu. Maka ketika pembahasan tentang gerakan feminisme di Indonesia, nama R.A. Kartini akan menduduki baris depan gerakan tersebut.

Ironisnya, tidak semua gagasan para aktivis perempuan Indonesia –yang mengaku meneruskan perjuangan R.A. Kartini- itu sejalan dengan apa yang telah digagas oleh R.A. Kartini. Bahkan, terkadang antara keduanya terdapat pertentangan.

Ketika menjabat  sebagai Menteri Pemberdayaan Perempaun, Meutia Hatta menganjurkan para perempuan untuk kembali memerankan peran pentingnya sebagai pendidik utama dengan slogan  “Masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan asuh para ibu terhadap anak-anaknya. Sang Menteri kala itu menjelaskan bahwa ada budaya nasional yang memuliakan perempuan, yaitu perempuan sebagai ibu. Kementrian PP ingin menegaskan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kemamapuan asuh ibu-ibu Indonesia terhadap anak-anak mereka. Para ibulah yang mencetak ketangguhan bangsa di masa depan.

Namun, anjuran ini mendapat kritikan dari para aktivis perempuan. Bagi mereka, mengembalikan perempuan sebagai pendidik utama berarti telah mendeskriditkan perempuan, dan itu berarti mengembalikan perempuan pada adat feodal. Menurut mereka, motto atau slogan seperti di atas justru memojokkan perempuan. Karena dengan motto tersebut, stereotip patriarki yang sudah ada –yaitu bapak sebagai kepala keluarga dan pencari nafkan dan tugas ibu adalah mengasuh anak- akan semakin kuat. Maka menurut para aktivis tersebut, motto tersebut harus ditinjau ulang.

Ada kesempitan pemikiran yang ditunjukkan oleh para aktivis perempuan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam protes tersebut. Mereka masih berfikir dalam mainstream yang umum, yaitu bila ada pandangan bahwa laki-laki atau suami sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah harus segera ditinjau ulang dan kalau perlu dihapuskan. Bagi mereka perempuan sebagai ibu, yang berarti berada di bawah pimpinan sang suami dan berada di rumah dipandang dengan inferioritas yang tinggi. Mungkin tidak hanya para aktivis perempuan tersebut saja yang berfikiran demikian. Di sekitar lingkungan kita, kita juga sering kali menemui cara pandang seperti ini. Perempuan yang menjadi ibu rumah tangga dianggap akan menghambat aktualisasi potensi diri karena perempuan hanya akan berhadapan dengan pekerjaan yang monoton, tidak menghasilkan keuntungan secara materi, dan untuk ini perempuan tidak dituntut untuk mempunyai suatu kemampuan dan profesionalisme yang tinggi. Masih terlihat bahwa status ibu rumah tangga masih dianggap dengan perasaan yang rendah dibanding dengan karir perempuan lain yang terlihat keunggulannya. Dalam hubungan di masyarakat pun si perempuan akan memperkenalkan diri dengan rendah diri dengan mengatakan, “Saya tidak bekerja, saya hanya ibu rumah tangga biasa, hanya di rumah saja.”

Pandangan tersebut merupakan hasil pemikiran yang sempit, bahwa perempuan yang sukses adalah perempuan yang berhasil dalam karirnya, yang terkenal namanya, yang bisa menghasilkan materi, yang punya jabatan, dan lain sebagainya. Mereka inilah orang-orang yang menjalankan profesi yang membutuhkan profesionalisme dalam pekerjaannya. Sedangkan ibu rumah tangga tidak ada hubungannya dengan itu semua. Ibu rumah tangga hanya sebuah konstruksi sosial yang kebetulan digariskan untuk perempuan.

Padahal bila ditelaah, segala profesi dan profesionalisme mempunyai titik sama, yaitu semua harus bertumpu pada kesungguhan dan keberhasilan yang akan dihasilkan. Profesi tidak harus berkaitan dengan hal-hal yang bersifat profit dan official semata. Maka di sini, ibu bisa diletakkan sebagai profesi karena peran yang akan dimainkan membutuhkan profesioanalisme. Peran ibu rumah tangga harus dibekali dengan kesungguhan, perencanaan, tujuan, dan pelaksanaan program yang matang. Semua itu membutuhkan keahlian seperti halnya profesi-profesi lainnya.

Hal ini tentu akan berbeda dengan pandangan bahwa sebagai ibu rumah tangga hanya alternatif terminal terakhir yang dipilih perempuan. Perempuan yang menganggap bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan profesi akan mengerjakan tugas-tugasnya dengan perencanaan dan tujuan yang matang. Ia tidak hanya mengerjakan secara asal dan serampangan yang dianggap sebagai rutinitas tanpa nilai. Ia akan mengerjakan segala tugasnya dengan kesungguhan serius, serta selalu membekali segala pekerjaannya dengan bekal pengetahuan dan ilmu yang tidak sedikit.

Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga harus melihat masalah ini sebagai agenda besar yang harus ditangani dengan cermat. Ia harus mempersiapkan diri dengan bekal ilmu dan wawasan yang luas yang semua itu tidak bisa diperoleh secara alami, namun perlu pembelajaran sejak dini. Bagi perempuan yang memilih sebagai profesinya, ini adalah karir yang perlu dijalankan dengan serius dan ketekunan serta kesungguhan, bukan dengan perasaan inferior. Rumah bisa dijadikan lahan aktualisasi diri dengan pendidikan terhadap anak-anak sebagai agenda utamanya. Dari rumah pula, perempuan akan diuji dengan kenyataan, apakah generasi yang dididik dengan keseriusan tinggi dan keberadaan seorang ibu di rumah lebih baik dari segi moral dan kepribadian ini lebih baik dari generasi hasil didikan seorang ibu yang menjadikan ibu rumah tangga sebagai karir sambilan?

Tidak hanya sampai di situ. Perjuangan R.A. Kartini atas kebebasan dan persamaan hak bagi perempuan juga mengalami reduksi. Kebebasan yang dimiliki oleh perempuan saat ini dipresentasikan dengan kebebasan perempuan dalam memperlakukan dan mengeksplorasi tubuhnya dengan keindahan. Bahkan, sebagian perempuan merasa bahwa dengan perlakuan-perlakuan tersebut, mereka telah menunjukkan keberhasilan dari gerakan kebebasan perempuan yang telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini dahulu.

Padahal, bila diperhatikan, apa yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini dahulu adalah sesuatu kebebasan dan persamaan yang jujur dan luhur. Perjuangan R.A. Kartini adalah perjuangan melawan ketidakadilan yang terjadi pada perempuan, baik ketidakadilan yang dilakukan oleh Bangsa Belanda maupun ketidakadilan yang dilakukan oleh rakyatnya sendiri. Apa yang ditulis dalam lembaran-lembaran suratnya bukanlah perjuangan kebebasan perempuan tanpa batas seperti saat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar