Jumat, 17 Oktober 2014

Dikira Jualan Buku


Koleksi kami yang baru sedikit

Kalau membaca cerita-cerita klasik, maka tidak dapat tidak pasti kita menemui cerita tentang ruangan khusus membaca, menggambar, atau berdikusi yang dimiliki tiap tokoh, contohnya dalam roman Pride and Prejudice (Jane Austen). Atau paling tidak dikisahkan kegemaran tokoh utamanya pada buku. Sampai-sampai saya menyimpulkan bahwa pengetahuan dan kemampuan yang wajib dimiliki oleh anak-anak pada masa itu adalah pengetahuan sejarah, biografi, dan kemampuan membaca sastra dan puisi. Seorang anak (atau siapapun itu) baru dikatakan berpendidikan (beradab) bila menguasai ketiga hal tersebut. Menguasai di sini bukan hanya sekedar menghafal urutan tahun dalam sejarah, atau pandai menyairkan puisi lho ya, tetapi lebih dari itu, menguasai sejarah dan biografi adalah anak (atau seseorang) mampu mengambil pelajaran dari kedua subjek tersebut.

Kenapa sejarah itu penting? Ini tidak sekedar terkait dengan pengetahuan tentang urutan tahun dari suatu kajadian. Lebih dari itu, pengetahuan tentang sejarah diperlukan untuk mengetahui peristiwa yang telah lalu untuk kemudian dijadikan bahan pelajaran dan asah pikiran atas tiap kejadian di masa kini. Sementara sastra dan puisi diperlukan untuk menyingkapkan hal-hal yang terdalam dalam jiwa manusia, yang kemudian bisa dijadikan teladan dan petunjuk bagi perilaku.

Selain pada cerita, saya juga mengamati film-film luar negeri yang selalu menampilkan buku ada di ruangan mereka. Baik itu film Barat maupun drama-drama romantis, seperti drama Korea. Hampir di setiap latar dari film-film tersebut ada pajangan rak buku dan beberapa tokoh utamanya gandrung pada buku. Bahkan pada film kartun Masha and The Bear pun sangat menonjolkan buku dan kesenangan si Bear pada buku yang akhirnya menular pada Bear.  

Lain halnya dengan ruangan-ruangan yang ada di masyarakat kita. Hanya sedikit rumah yang dihiasi rak-rak buku. Kalaupun ada rak buku, biasanya lebih banyak buku-buku pelajaran yang formal saja. Akan aneh dipandang kalau ada ruang tamu yang dihiasi rak-rak buku. Seperti ruang tamu saya saat ini (rak buku ditaruh di ruang tamu karena rumah kami mungil dan memang tidak punya ruang khusus membaca). Orang yang pertama kali ke rumah banyak yang mengira kami jualan buku, atau jualan mushaf (karena di rak bagian atas ada beberapa buku tafsir), atau kami membuka perpustakaan umum. 


Saya, dari kecil ingin sekali punya perpustakaan mini. Sejak madrasah ibtidaiyah, saya mempunyai hobi mengumpulkan buku-buku, meskipun lebih pada buku pelajaran. Saya senang sekali kalau ada kesempatan berkunjung ke rumah paklek, sepupu, atau saudara-saudara lain yang mempunyai banyak buku yang  biasanya hanya diletakkan dalam tumpukan kardus. Saya betah berlama-lama membongkar kardus-kardus itu dan memilih-milihnya untuk kemudian saya bawa pulang. Tidak peduli itu buku buat anak madrasah ibtidayah atau SMP, bagi saya yang penting bisa menambah pengetahuan. Yang paling menarik bagi saya waktu itu adalah buku pelajaran sejarah. Tidak heran, di antara semua teman sekelas saya, buku sayalah yang paling lengkap. Ditambah lagi kebiasaan abah yang tidak pernah menolak untuk membelikan saya buku ketika saya memintanya (dan hanya berlaku pada permintaan berupa buku, tidak yang lainnya). Ketika di madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah pun, tetap, koleksi buku saya tetap yang terbanyak di antara teman-teman, termasuk kitab-kitab kuning. Ini lagi-lagi karena abah tidak pernah menolak ketika saya minta belikan buku.

Sayangnya, buku-buku koleksi saya yang banyak itu hanya seputar buku pelajaran. Tidak ada buku sastra atau bacaan lainnya. Itu karena di kota kami jarang sekali toko buku besar yang menjual aneka macam buku. Juga karena abah (seperti halnya para orang tua kebanyakan) yang masih menekankan penguasaan ilmu-ilmu pelajaran saja. Biasanya kalau saya ingin baca buku cerita, saya meminjamnya di perpustakaan. Keadaan perpustakaan yang sepi (baik perpustkaan madrasah, tsanawiyah, maupun aliyah), menguntungkan saya memilih banyak koleksi tanpa harus mengantri. Saya ingat, saya membaca karya-karya sastra angkatan Balai Pustaka, seperti Salah Asuhan, Salah Pilih, Siti Nurbaya, juga angkatan Pujangga Baru, seperti di Bawah Lindungan Kabah, dan lainnya ketika saya di tsanawiyah. Saking kuatnya cerita-cerita itu, saya seringkali bermimpi bisa mengunjungi Sumatera Barat yang banyak digunakan sebagai latar pada cerita-cerita itu. Dan tau kah saudara-saudara, ternyata cerita-cerita itu lebih kuat teringat di benak kepala saya dibandingkan isi dari buku-buku pelajaran. Saya setuju dengan ungkapan seorang teman yang menyatakan bahwa anak lebih membutuhkan buku-buku cerita, karya sastra, serta puisi untuk mengembangkan imajinasi mereka dibandingkan buku-buku pelajaran.

Jujur saja, saya merasa sangat minder ketika bergabung di suatu grup komunitas parenting dan pecinta buku di facebook. Saya yang merasa sudah mempunyai bacaan yang banyak rupanya tidak ada apa-apanya dengan teman-teman. Bahkan ketika mereka bernostalgia dengan bacaan mereka ketika kecil, seperti serial Tini, Heidi, Peter Pan, dan lainnya, saya tidak tau apa-apa. Apalagi ketika membaca daftar yang dibuat oleh sebuah komunitas homeschooling tentang daftar bacaan anak-anak, wuiiiih... saya semakin menedelep (tenggelam, kata orang Jawa). Tak satu pun dari daftar buku-buku tersebut saya pernah saya baca. Apalagi rujukan buku-buku sejarahnya, jauuuuuh.

Lalu, sebenarnya apa manfaat buku-buku sastra dan sejarah itu? Seperti yang saya singgung sebelumnya. Semua buku-buku itu akan menanamkan karakter dan nilai sikap yang lebih kuat bila dibandingkan penanaman karakter dan nilai melalui buku-buku pelajaran yang bersifat formal. Baru-baru ini (ya, di umur emak-emak yang dua tahun lagi menginjak umur 30 tahun ini), saya membaca novel klasik anak-anak (yang seharusnya sudah dibaca anak ketika kelas tiga SD) yang berjudul A Little Princess, yang menceritakan sikap dan karakter si tokoh utama yang cerdas, rendah hati, serta baik hati, saat kehidupannya kaya raya, dan tetap tegar, tidak mengeluh, sabar, serta bersemangat, ketika kemiskinan menimpanya. Dan ketika kekayaannya kembali, ia tetap bersahaja, tanpa sedikitpun berniat membalas dendam orang-orang yang menyakitinya. Dan begitulah sejatinya sikap dan kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bila seorang anak membaca cerita ini dan menghayatinya, bisa dipastikan cerita ini akan kuat melekat di ingatan sang anak dibanding buku-buku pelajaran yang paparkan secara formal. Ini hanya salah satu contoh.

Memang terlambat bagi saya untuk menyadari hal ini. Tapi saya rasa belum terlambat untuk Farras (dan adik-adiknya kelak). Karena itulah, sedapat mungkin saya akan memperbaiki keadaan kami. Memang buku-buku kami di rumah belum banyak (terutama buku-buku sastra), tapi setidaknya, anak-anak kami terbiasa dengan buku, mencintai buku, gemar membaca, dan senantiasa ingin tau dan cinta ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar