Rabu, 26 November 2014

“Anggin Mas Aja! (Panggil Mas saja!)”

“Mas, ukan abang. (mas, bukan abang).” Begitu protes Farras kepada salah satu tetangga yang memanggilkan ‘abang’ untuk anaknya. Farras mau dipanggil ‘mas’, dan tidak mau dipanggil dengan panggilan lainnya, tidak ‘abang,’ tidak juga ‘kakak.’ Pantas saja, dia menggubah lagu Satu-satu.

“Tiga-tiga, sayang adik-mas, satu-dua-tiga, sayang semuanya.” Begitu lagu gubahan Farras. Saya sih nurut saja apa maunya si mas yang satu ini. Yang pasti banyak sekali keceriaan saat hamil kedua ini karena mempunyai si mas yang baik dan sangat perhahatian ini.

Diawali dengan proses menyapih alami yang tidak terlalu rumit dan hanya memakan waktu satu bulan setengah. Saya katakan kepadanya kalau sebentar lagi si mas akan punya adik. Jadi mimiknya harus berhenti dan yang mimik ibu hanya adik bayi. Sejak saat itu, si mas rupanya sudah memposisikan diri sebagai seorang kakak yang pengertian. Si mas selalu berusaha menahan diri untuk tidak ngASI meski butuh waktu satu bulan setengah dan akhirnya benar-benar bisa berhasil berhenti ngASI tanpa suatu paksaan sedikit pun.

Beberapa bulan kemudian, nampaknya dia benar-benar paham kalau dia akan mempunyai adik karena ada adik di perut ibu yang selalu bergerak-gerak. Kami selalu mengajaknya ketika memeriksakan sang adik, baik di bidan maupun di dokter. Dan saat di dokter itulah dia benar-benar tau kalau ada adik di perut. Saya juga membacakan ensiklopedia mini tentang adik bayi di perut ibu dan dia merekam kuat penjelasan saya hingga sangat lancar kalau disuruh cerita ulang tentang gambar-gambar di ensiklopedia tersebut. “Kayo ada adik di eyut ibu, ibu ucing ya? (Kalau ada adik di perut ibu, ibu jadi pusing ya?” Begitu katanya.

Perhatian si mas yang baik ini pun seringkali membuat saya terharu. Anak usia 2,5 tahun ini sangat peduli pada ibu dan si adik. Kalau ibu mulai terlihat kelelahan setelah beres-beres, dia langsung menawarkan bantuan, “ibu napa ibu? Ibu ucing? Minum ain duyu ya?” Tanpa menunggu jawaban, si mas langsung mengambilkan air putih. “Makjus, bu? (maknyus, bu?)” Air pemberian darimu selalu maknyus, Nak, seperti air surga. Itu yang ibu rasakan. Atau kalau ibu mulai agak merasa kesakitan, si mas akan berujar, “Adik napa ibu? Adik peyan-peyan geyaknya adik. Adik mau main? Main obot ato main mobin? (Adik kenapa ibu? Adik pelan-pelan geraknya adik. Adik mau main? Mau main robot atau main mobil?” Dan lagi-lagi tanpa menunggu jawaban, si mas akan mengambil dua mobil, atau dua robot, atau dua mainan apapun. Satu untuk mas, satu lagi untuk si adik dan akan menempelkannya ke perut ibu. Tuh kan Nak, apa yang ibu bilang, mas Farras itu baik banget. Mas Farras itu perhatian banget. Nanti jadi adik-mas yang rukun ya!

Entah pikiran dari mana rasa berbaginya itu muncul, saya sendiri merasa belum pernah memintanya untuk berbagi. Tapi si mas ini selalu saja mengingat adiknya ketika punya sesuatu. Ketika dia dibelikan es krim, dia akan menawari si adik. “Adik mau?” Maka dia akan menyuapkan es krim itu ke ibu. “Buat adik,” katanya. Ketika melihat gambar strowberi di buku yang berjumlah empat buah, dia pun berujar, “Atu uat Ais, atu uat abah, atu uat ibu, atu agi uat adik. (Satu buat Farras, satu buat abah, satu buat ibu, dan satu lagi buat adik).” Selalu ada baut adik. Baiklah Nak, mari kita menanti adik lahir dengan bahagia. Mari kita menyambutnya dengan penuh cinta. Dan mari kita berdoa, semoga kelak kalian akan selalu rukun dan saling cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar